TUGAS
AKHIR SEMESTER
MATA KULYAH BIROKRASI DAN
ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
TENTANG
DEDIKASI DAN LOYALITAS
PEGAWAI NEGERI SIPIL BERDASARKAN MENPAN NO. 25 TAHUN 2002

OLEH
YOGI KOMALA PUTRA
1106462/2011
PROGRAM STUDI ILMU
ADMINISTRASI NEGARA
JURUSAN ILMU SOSIAL
POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI
PADANG
2012
Tujuan
Pembangunan Milenium
Tujuan
Pembangunan Milenium (TPM) adalah serangkaian tujuan
yang telah disepakati oleh para pemimpin dunia dalam KTT (Konferensi Tingkat
Tinggi) Milenium pada September
2000. Tujuan Pembangunan Milenium
adalah komitmen dari komunitas internasional terhadap pengembangan visi
mengenai pembangunan; yang
secara kuat mempromosikan pembangunan
manusia sebagai kunci untuk mencapai pengembangan sosial dan ekonomi yang
berkelanjutan dengan menciptakan dan mengembangkan kerjasama dan kemitraan global.
TPM mendorong pemerintah,
lembaga donor dan organisasi masyarakat sipil di manapun untuk mengorientasikan
kembali kerja-kerja mereka untuk mencapai target-target pembangunan yang spesifik, ada tenggat waktu dan terukur ke dalam
8 tujuan pembangunan milenium
yaitu:
- Menghapuskantingkat kemiskinan dan kelaparan
Target untukl2015: Mengurangi setengah dari penduduk dunia yang berpenghasilan kurang dari 1
US$ sehari dan mengalami kelaparan.
- Mencapai Pendidikan Dasar secara Universal
Target 2015: Memastikan
bahwa setiap anak laki dan perempuan mendapatkan dan menyelesaikan tahap pendidikan
dasar.
- Mendorong kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan
Target 2005 dan 2015: Mengurangi
perbedaan dan diskriminasi gender dalam pendidikan dasar dan menengah terutama
untuk tahun 2005 dan untuk semua tingkatan pada tahun 2015.
- Mengurangi tingkat kematian anak Target 2015:Mengurangi tingkat kematian anak-anak usia di bawah 5 tahun hingga dua-pertiga
- Meningkatkan Kesehatan Ibu
Target 2015: Mengurangi
rasio kematian ibu hingga 75% dalam proses melahirkan
- Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya Target 2015: Menghentikan dan memulai pencegahan penyebaran HIV/AIDS dan gejala malaria dan penyakit berat lainnya.
- Menjamin keberkelanjutan lingkungan
Target:
- Mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan dalam kebijakan setiap negara dan program serta merehabilitasi sumber daya lingkungan yang hilang
- Pada tahun 2015 mendatang diharapkan jumlah orang yang tidak memiliki akses air minum yang layak dikonsumsi berkurang setengahnya
- Pada tahun 2020 mendatang diharapkan dapat mencapai perbaikan kehidupan yang signifikan bagi sedikitnya 100 juta orang yang tinggal di daerah kumuh
- Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan
Target:
- Mengembangkan lebih jauh lagi perdagangan terbuka dan sistem keuangan yang melibatkan komitmen terhadap pengaturan manajemen yang jujur dan bersih, pembangunan dan pengurangan tingkat kemiskinan secara nasional dan internasional.
- Membantu kebutuhan-kebutuhan khusus negara-negara tertinggal, dan kebutuhan khusus dari negara-negara terpencil dan kepulauan-kepulauan kecil.
- Secara komprehensif mengusahakan persetujuan mengenai masalah utang negara-negara berkembang.
- Mengembangkan usaha produktif yang baik dijalankan untuk kaum muda
- Dalam kerjasama dengan pihak swasta, membangun adanya penyerapan keuntungan dari teknologi-teknologi baru, terutama teknologi informasi dan komunikasi.
Apa Latar Belakang?
Target-target tersebut disusun dalam tujuan pembangunan milenium pertama kali dalam konferensi tingkat Tinggi PBB di tahun 1990-an. Hasil-hasil tersebut kemudian dikompilasikan dan kemudian dikenal sebagai Tujuan Pembangunan Internasional (International Development Goals).
Target-target tersebut disusun dalam tujuan pembangunan milenium pertama kali dalam konferensi tingkat Tinggi PBB di tahun 1990-an. Hasil-hasil tersebut kemudian dikompilasikan dan kemudian dikenal sebagai Tujuan Pembangunan Internasional (International Development Goals).
Pada bulan September 2000, 189
pemerintahan negara-negara anggota PBB,termasuk Indonesia menandatangani
deklarasi milenium (The
Millennium Declaration) pada KTT Milenium.
Tantangan utama yang dibahas adalah mengarahkan globalisasi menjadi “inklusif
dan setara”.
Inti dari deklarasi milenium ini adalah delapan tujuan pembangunan milenium seperti
telah disebutkan diatas. Diluar ke-8 tujuan
tersebut, deklarasi milenium
juga membahas isu-isu penting lainnya seperti perdamaian, keamanan dan
pelucutan senjata, HAM, demokrasi dan ketatapemerintahan yang baik, kebutuhan
khusus bagi Afrika dan penguatan kelembagaan PBB. Nilai-nilai yang mendasari
deklarasi milenium adalah:
kebebasan, kesetaraan, solidaritas, toleransi, penghargaan terhadap alam dan
pertanggungjawaban bersama.
Tujuan
Pembangunan Milenium kemudian dimatangkan lagi dalam pertemuan tingkat tinggi delapan negara
maju (G8) di Evian, Prancis pada akhir 2003.
Kelembagaan Untuk Mencapai TPM UNDP, sebagai bagian dari jaringan PBB, menjadi penghubung dan
mengkoordinasikan berbagai upaya-upaya di tingkat nasional dan global untuk
mencapai TPM. Sekretaris Jendral PBB Kofi Annan telah meminta administrator
UNDP Mark Malloch Brown (direktur dari kelompok-kelompok pembangunan PBB- UN Development Group)
untuk menjadi koordinator TPM.
Ada 4
strategi utama UNDP untuk mencapai TPM yaitu:
- Mengintegraksikan TPM ke dalam berbagai aspek dari kerja-kerja badan PBB di tingkat negara, termasuk menciptakan panduan baru untuk menilai dan menyusun pembangunan satu negara.
- Mendampingi negara-negara berkembang didalam menyiapkan laporan TPM yang menggambarkan perkembangan dalam mencapai tujuan tersebut bekerjasama dengan badan-badan PBB, Bank Dunia, IMF, ornop dan pihak-pihak yang relevan lainnya.
- Mendukung proyek milenium (Millennium Project) yang diketuai oleh Professor Jeffrey Sachs dari Universitas Columbia dan juga kampanye milennium (Millennium campaign) untuk membangun dukungan –dukungan publik terhadap TPM.
- Mendukung upaya-upaya advokasi berdasarkan strategi negara dan kebutuhan setiap negara. Negara-negara maju akan difokuskan kepada perdagangan, dana, teknologi untuk mendukung TPM sementara negara-negara berkembang membangun koalisi untuk aksi dan mendorong pemerintah untuk memprioritaskan dan menggunakan sumber daya secara efektif untuk mendukung pencapaian TPM.
Ke-8 tujuan pembangunan milenium tersebut akan dievaluasi oleh Majelis
Umum PBB (The UN General Assembly) pada tahun 2005. Beberapa organisasi non
pemerintah yang berkaitan dengan PBB akan bertemu di kantor pusat PBB di New
York pada tanggal 8-10 September 2004 untuk mengetahui bagaimana mereka dapat
mendampingi proses ini.
Kritik Terhadap TPM Paparan program dalam TPM
tentu saja merupakan konsep ideal, namun dalam implementasinya
diperkirakan akan banyak menemui kendala di lapangan dan kemungkinan besar akan
sulit memenuhi tenggat waktu yang telah ditetapkan. Kritik terhadap TPM terkait
dengan persoalan ketergantungan negara-negara anggota pada negara donor.
Pendanaan dari negara-negara biasanya disertai berbagai persyaratan yang pada
akhirnya justru memberatkan negara penerima bantuan. Negara donor sering
memasukkan agenda tersembunyi terhadap negara yang dibantu dimana agenda-agenda
tersebut seringkali tidak terkait dengan upaya pengentasan kemiskinan dan
perbaikan kualitas kehidupan manusia tetapi lebih mengenai faktor-faktor yang
mendorong pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dalam batas tertentu
kadang-kadang tidak berarti apa-apa bagi orang miskin sehingga perlu konsep pembangunan yang benar-benar berpihak
kepada mereka.
Forum masyarakat sipil se-Asia
Pasifik di Bangkok, pada 6-8 Oktober 2003 secara spesifik menghasilkan kritik
terhadap TPM antara lain:
- Tujuan pembangunan milenium merumuskan kemiskinan dalam konteks visi, ruang lingkup dan arah secara sempit, mengenyampingkan HAM
- TPM tidak memberikan sebuah peninjauan ulang analisa yang dalam terhadap perubahan kebijakan dan institusi. Dengan demikian menghubungkan TPM dengan perangkat resep-resep utama seperti yang disodorkan oleh Bank Dunia dan IMF akan menjadi pendekatan yang salah.
- Perhatian dan sumber daya keuangan dari negara-negara maju justru dialihkan jauh dari prioritas untuk kemiskinan dan malah dialokasikan untuk pelayanan hutang dan pembelanjaan kebutuhan militer.
Ornop Indonesia yang ikut
menandatangani adalah Solidaritas Perempuan, Institute of Global Justice dan
Federasi Serikat Petani Indonesia.
Perkembangan Pencapaian TPM Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional sendiri meragukan bahwa target
tersebut dapat dipenuhi pada 2015. Berdasarkan laporan Indikator Pembangunan Dunia 2004 (World
Development Indicators 2004) dan Laporan Monitoring Global (Global Monitoring
report), target pertama untuk mengurangi setengah jumlah penduduk dunia yang
berpenghasilan kurang dari 1US$ sepertinya dapat terpenuhi. Itupun lebih
disebabkan karena pertumbuhan ekonomi di Asia Timur dan Selatan, terutama Cina
dan India. Sementara itu ke-7 target lainnya akan sangat sulit tercapai.
Negara-negara industri gagal
untuk memenuhi komitmen mereka memberikan 0,7% dari GNP untuk pendampingan pembangunan (official development
assistance). Jika hal ini terus berlanjut maka tujuan tersebut akan sulit dipenuhi dihampir 60 negara terutama
negara-negara miskin di Afrika, Asia dan Amerika Latin. Sekitar US$ 87 milyar
sendiri dialokasikan untuk pengeluaran militer di Irak dan Afganistan.
Di Indonesia, Laporan Pembangunan Manusia 2003 yang berjudul
Tujuan Pembangunan Milenium:
Perjanjian Antar Negara Untuk Mengakhiri Kemiskinan Manusia (Millennium
Development Goals: A Compact among Nations to End Human Poverty),
melaporkan status negara-negara dalam upaya mencapai TPM dan membahas
pembaruan-pembaruan nyata dalam kebijakan dan komitmen anggaran serta sumber
daya yang diperlukan untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut. Lebih lanjut,
diajukan suatu rencana aksi baru − yakni “Perjanjian Pembangunan Milenium” − guna mencapai TPM. Laporan ini terutama
mengimbau agar dibentuk kemitraan antara negara-negara kaya dan negara miskin,
di mana negara-negara yang miskin akan mengerahkan sumber-sumber daya dalam
negeri mereka serta menjalankan tata pemerintahan yang baik demi pencapaian
TPM, sementara negara-negara yang kaya akan meningkatkan bantuan mereka dan
meringankan tekanan beban hutang.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Kwik Kian Gie
memaparkan laju pertumbuhan penduduk menurun dari 2,32 persen pada periode
1971-1980 menjadi 1,49 persen pada periode 1990-2000. Angka kelahiran total
juga turun dari 5,6 anak per wanita produktif pada 1971 menjadi 2,6 anak pada
2002. Sedangkan angka kematian balita turun dari 210 per 1.000 kelahiran hidup
pada 1960 menjadi 46 pada 2000.
|
Fakta mengenai tujuan pembangunan milenium di
Indonesia pada 1990-2002 (%)
|
||
|
Target
|
1990
|
2002
|
|
Memberantas kemiskinan dan kelaparan:
|
||
|
- proporsi penduduk hidup di bawah US$1 per hari
|
20,6
|
7,2
|
|
- proporsi di bawah garis konsumsi minimum (2.100
kal/kapita/hari)
|
69,5
|
64,6
|
|
Mewujudkan pendidikan dasar bagi semua:
|
||
|
- proporsi murid kelas 1 (SD) yang berhasil mencapai
kelas 5
|
75,6
|
82,2
|
|
- proporsi murid kelas 1 yang berhasil menamatkan SD
|
62,0
|
74,4
|
|
1992
|
2002
|
|
|
Mewujudkan pendidikan dasar bagi semua:
|
||
|
- rasio anak perempuan terhadap anak laki-laki di
tingkat pendidikan tinggi
|
85,1
|
92,8
|
|
- rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki
(15-24 tahun) SD
|
97,9
|
99,8
|
|
Mengurangi tingkat kematian anak:
|
||
|
- angka kematian balita (per 1.000 kelahiran hidup)
|
-
|
46,0
|
|
– angka kematian bayi (per 1.000 kelahiran hidup)
|
-
|
35,0
|
|
Meningkatkan kesehatan ibu:
|
||
|
- proporsi pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan terlatih
|
40,7
|
68,4
|
|
- angka pemakaian kontrasepsi pada perempuan menikah
usia 15-49 thn
|
50,5
|
54,2
|
|
Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lain:
|
||
|
- angka pemakaian kontrasepsi kondom perempuan
menikah usia 15-49 thn
|
1,3
|
0,4
|
|
- angka kesembuhan penderita tuberkulosis
|
76
|
-
|
|
Menjamin kelestarian lingkungan:
|
||
|
- proporsi penduduk dgn akses terhadap fasilitas
sanitasi layak
|
30,9
|
63,5
|
|
- akses terhadap sumber air minum yang terlindungi
dan berkelanjutan
|
-
|
50,0
|
|
Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan:
|
||
|
- ?
|
||
Meski terjadi angka penurunan
di beberapa indikator diatas, Kwik menilai proses pembangunan masih tersendat. Hal itu, katanya, tercermin dari
lambannya pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme. Selain itu masih
rendahnya kesejahteraan dan daya dorong ekonomi. Kwik juga mengkritik
lembaga-lembaga keuangan internasional yang bukannya membantu negara-negara
miskin malah memperkeruh laju pembangunan
negara-negara yang ditanganinya. Selain itu pendekatan survei sebatas tingkat
propinsi tidak mencerminkan jumlah penduduk miskin sebenarnya.
Pendapat Kwik juga sesuai
dengan Duta Besar Khusus PBB untuk Asia Pasifik Erna Witoelar. Menurut Erna,
pengentasan kemiskinan yang diserahkan ke daerah jauh lebih efektif daripada
ditangani secara nasional yang selalu mengandalkan pinjaman Bank Pembangunan Asia atau Bank Dunia. Ia
menilai kesenjangan antar daerah masih tinggi dan makin parahnya kerusakan
lingkungan hidup.
Tidak dicantumkannya tujuan ke delapan TPM di dalam LPM
2003 tersebut tersebut menjadi tanda tanya di kalangan masyarakat sipil, antara
lainINFID. Sekretaris Eksekutif INFIDBinny Buchori menyatakan keheranannya
terhadap pemerintah yang tidak mencantumkan tujuan ke delapan tersebut padahal tujuan ke-8 tersebut sangat penting dan kritis dalam upaya
pengentasan kemiskinan karena menyangkut realitas utang luar negeri, kerja sama
global, dan politik perdagangan internasional. Target tujuan ke- delapan, yaitu mengembangkan lebih lanjut sistem
perdagangan dan keuangan terbuka yang berdasar aturan, dapat diandalkan, dan
tidak diskriminatif. Target penting lainnya dalam tujuan ke-8 yaitu menangani kebutuhan khusus negara-negara yang
kurang berkembang, yang mencakup pemberian bebas tarif dan bebas kuota untuk
ekspor, keringanan pembayaran utang negara-negara berkembang yang terjerat
utang, dan pembatalan utang bilateral. Tidak ketinggalan pemberian bantuan pembangunan yang lebih besar untuk
Negara-negara yang berkomitmen untuk mengurangi kemiskinan.
Menanggapi hal tersebut,
pemerintah menegaskan bahwa tujuan
ke-delapan hanya menjadi tanggung jawab negara-negara maju. Indonesia sebagai
negara berkembang hanya merasa berkewajiban melaporkan capaian perkembangan tujuan satu sampai tujuh yang
ditegaskan oleh Direktur Pendanaan Multilateral Bappenas, Delthy S. Simatupang.
Penutup
TPM harus dipandang bukan hanya sebagai tujuan yang harus dipenuhi oleh negara-negara sedang berkembang tetapi juga menjadi kewajiban negara-negara maju. Sasaran-sasaran tersebut adalah konsep ideal, yang bisa tidak memiliki makna tanpa melihat konstelasi politik dan relasi kekuasaan di tingkat global, nasional dan lokal. Sepatutnya TPM ini dapat menjadi katalis untuk benar-benar menciptakan konsep dan pendekatan yang berpihak pada kelompok miskin.
TPM harus dipandang bukan hanya sebagai tujuan yang harus dipenuhi oleh negara-negara sedang berkembang tetapi juga menjadi kewajiban negara-negara maju. Sasaran-sasaran tersebut adalah konsep ideal, yang bisa tidak memiliki makna tanpa melihat konstelasi politik dan relasi kekuasaan di tingkat global, nasional dan lokal. Sepatutnya TPM ini dapat menjadi katalis untuk benar-benar menciptakan konsep dan pendekatan yang berpihak pada kelompok miskin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar