TUGAS KULIAH
PERENCANAAN
PEMBANGUNAN
“RENSTRA
PEMBANGUNAN KABUPATEN KERINCI”
OLEH:
YOGI KOMALA PUTRA
2011/1106462
PRODI
ILMU ADMINISTRASI NEGARA
JURUSAN
ILMU SOSIAL POLITIK
FAKULTAS
ILMU-ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS
NEGERI PADANG
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Disparitas
pembangunan wilayah dan pendapatan merupakan fenomena dampak pembangunan yang
kurang tearah dan umumnya terjadi di negara berkembang seperti Indonesia.
Ketimpangan ini menimbulkan dikotomi didalam perencanaan tata-ruang yaitu
antara wilayah perkotaan yang penuh dengan medernisasi dengan wilayah perdesaan
yang cenderung masih terbelakang, tingkat urbanisasi yang cukup tinggi, serta
tidak adanya keterkaitan wilayah perkotaan dengan wilayah perdesaan. Wilayah
merupakan ruang yang terdiri dari kesatuan geografis beserta segenap unsur
terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan
aspek fungsional.
Pembangunan
suatu wilayah adalah fungsi dari pembangunan nasional. Perencanaan wilayah
merupakan sarana dalam proses pembangunan. Dalam ruang lingkup pembangunan
nasional, terdapat keterkaitan pembangunan wilayah dengan tujuan pembangunan
nasional. Perubahan hubungan yang semula tergantung menjadi saling
ketergantungan membutuhkan adanya perubahan struktural dibidang politik dan
ekonomi di tingkat nasional dan di tingkat wilayah termasuk didalamnya aspek
tata-ruang seperti lokasi pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan.
Kabupaten
Kerinci sebagai salah satu daerah otonom, telah melakukan pemekaran wilayah
kecamatan dari enam kecamatan menjadi 17 kecamatan berdasarkan Peraturan
Pemerintah No. 129 Tahun 2000. Bertambah banyaknya jumlah kecamatan ini
memerlukan penetapan suatu lokasi yang akan dijadikan pusat pemerintahan
sehingga segala kegiatan dapat dilaksanakan dengan lancar. Sampai saat ini
ibukota Kabupaten Kerinci masih berada di Kota Sungai Penuh.
B. VISI
dan MISI
Visi
merupakan pandangan masa depan Kabupaten Kerinci yang rasional dan mengandung
unsur motivasi untuk mencapainya, penetapan visi ini merupakan hal utama yang sangat
penting bagi pemerintah Kabupaten Kerinci dan semua unsur masyarakat Kerinci,
sehingga dalam pengambilan kebijakan dan proses pembangunan ke depan selalu
mengarah pada pewujudan visi yang telah disepakati.
Sedangkan
Misi, merupakan tugas atau upaya yang harus dilakukan Pemerintah Kabupaten
bersama masyarakat Kerinci untuk mewujudkan Visi Kabupaten Kerinci.
1. V I S I
Berdasarkan kondisi umum yang di miliki Kabupaten
Kerinci saat ini dan pengalaman pelaksanaan pembangunan selama lima tahun yang
lalu serta harapan yang akan di wujudkan pada masa yang akan datang, maka Visi
Kabupaten Kerinci tahun 2009 – 20014 adalah.
MEWUJUDKAN MASYARAKAT MADANI, BERBASIS AGRIBISNIS YANG TANGGUH DAN
PARIWISATA YANG UNGGUL
Dimana
visi tersebut mengandung makna atau pengertian pokok sebagai berikut ;
1.
MASYARAKAT MADANI : Mewujudkan Masyarakat Kerinci di
masa datang hidup sejahtera dan bermartabat, kebutuhan dasar lahir dan batin
secara manusiawi terpenuhi, taat menjalankan ajaran agama, hidup rukun dan damai,
berkeadilan, berdaya saing, menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi,
menjunjung tinggi nilai-nilai agama, adat istiadat dan supremasi hukum,
hubungan antara pemerintah dan masyarakat berjalan baik, pemerintahan di
laksanakan secara demokratis, berlandaskan prinsip-prinsip Kepemerintahan yang
baik.
2.
BERBASIS AGRIBISNIS YANG TANGGUH : Pewujudan Masyarakat
Madani di lakukan melalui pengembangan agribisnis dimana Agribisnis merupakan
tumpuan kekuatan dalam mengembangkan perekonomian rakyat, yang ditandai dengan
terciptanya sinergi antara subsistem- subsistem agribisnis (subsistem hulu,
subsistem usaha tani, subsistem hilir meliputi industri pengolahan dan
pemasaran, serta subsistem pendukung), sehingga nilai tambah yang diterima
petani dari produk yang dihasilkan meningkat, diharapkan benih, bibit pertanian
makin meningkat baik kualitas maupun kuantitasnya, dan juga diharapkan pada
masa yang akan datang sebagian besar produk pertanian Kabupaten Kerinci telah
dapat di olah di Kerinci, dan pemasaran produk pertanian akan lebih
menguntungkan masyarakat, dengan demikian dapat memperluas dan memperkokoh
stuktur ekonomi daerah, serta meningkatkan daya saing sektor pertanian
khususnya dan daya saing ekonomi daerah umumnya.
3.
PARIWISATA YANG UNGGUL : Menggambarkan keadaan dimasa
datang, dengan keunggulan panorama alam yang indah, objek wisata dan kekayaan
seni budaya yang menarik, Kabupaten Kerinci menjadi salah satu daerah tujuan
wisata utama di Sumatera dan sumbangan sektor pariwisata terhadap peningkatan
kesejahteraan masyarakat makin besar, demikian pula sumber Pendapatan Asli
Daerah (PAD) Kabupaten Kerinci sebagaian besar bersumber dari aktivitas
pariwisata.
2. M I S I
Untuk
mewujudkan Visi tersebut ditetapkan Misi Pemerintah Kabupaten Kerinci sebagai
berikut :
1. PERWUJUDAN PELAKSANAAN TATA
PEMERINTAHAN YANG BAIK.
2. PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN
PENDIDIKAN, KEHIDUPAN BERAGAMA DAN KESEHATAN MASYARAKAT.
3. PENINGKATAN DAN PENGEMBANGAN SISTEM
AGRIBISNIS YANG BERBASIS EKONOMI KERAKYATAN DENGAN MEMANFAATKAN POTENSI DAERAH
YANG BERDAYA SAING DAN BERORIENTASI PASAR.
4. PENINGKATAN PENGGALIAN DAN
PENGEMBANGAN PARIWISATA BERLANDASKAN ADAT, BUDAYA DAN AGAMA.
5. PENGEMBANGAN USAHA, KECIL, MENENGAH
DAN KOPERASI SERTA USAHA INFORMAL.
6. PENINGKATAN KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH
DENGAN MENGGALI, MENGEMBANGKAN DAN MENGELOLA SUMBER-SUMBER PENDAPATAN DAERAH
DAN KEKAYAAN DAERAH SECARA PROFESIONAL DAN PROPORSIONAL.
7. PENINGKATAN
KUALITAS SARANA DAN PRASARANA DASAR (INFRASTRUKTUR ).
8. PENINGKATAN KONSERVASI DAN
REHABILITASI SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP.
9. PENINGKATAN KEAMANAN, KETERTIBAN
MASYARAKAT DAN PENEGAKAN SUPREMASI HUKUM.
10. PENINGKATAN DAN PENGEMBANGAN
KESEJAHTERAAN SOSIAL.
BAB II
RENCANA STRATEGI PEMBANGUNAN
KABUPATEN KERINCI
A.
Dasar
Pertimbangan, Tujuan, dan Sasaran Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kerinci
a.
Dasar Pertimbangan Tata Ruang
Wilayah Kabupaten kerinci
Berdasarkan hasil kajian terhadap
faktor-faktor eksternal (determinan) dan faktor internal (potensi dan masalah) terkait Kabupaten
Kerinci, maka didapat 5 (lima) faktor
penting yang harus menjadi bahan pokok-pokok pertimbangan perencanaan Kabupaten Kerinci pada masa yang
akan datang, yaitu :
1. Peluang
eksternal bisa dimanfaatkan untuk mengatasi keterisolasian Kabupaten Kerinci.
2. Posisi
penting Kabupaten Kerinci sebagai hulu DAS Batanghari, memiliki beberapa DAS
lainnya, serta memiliki separuh kawasan lindung (TNKS) menjadikan Kabupaten
Kerinci diarahkan menjadi fungsi konservasi.
3. Perlunya
evaluasi dan kontrol penggunaan lahan budidaya untuk kepentingan fungsi resapan
air dan mitigasi bencana alam.
4. Pertimbangan
rawan bencana dalam pengembangan sarana dan prasarana wilayah/perkotaan terkait
dengan sebaran penduduk.
5. Mengarahkan
kegiatan ekonomi prospektif sesuai daya dukung lingkungan (contoh : Pariwisata,
Perkebunan, Perikanan Darat, Pertanian Lahan Basah dan Kering sebagai
konpensasi konservasi lahan).
b.
Tujuan Perencanaan Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Kerinci
Tujuan perencanaan tata ruang wilayah
kabupaten adalah mewujudkan ruang wilayah kabupaten yang berkualitas, serasi,
optimal sesuai dengan kebijaksanaan
pembangunan daerah serta sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan kemampuan daya dukung lingkungan. Lebih
lanjut tujuan tata ruang wilayah kabupaten
adalah :
1. Terlaksananya
perencanaan tata ruang secara terpadu dan menyeluruh.
2. Terwujudnya
tertib pemanfaatan ruang.
3. Terselenggaranya
pengendalian pemanfaatan ruang.
c.
Sasaran Perencanaan Tata Ruang
Wilayah Kabupaten kerinci
Sasaran
perencanaan tata ruang wilayah Kabupaten Kerinci adalah sebagai berikut :
1. Terumuskannya
pengelolaan kawasan berfungsi lindung dan budidaya.
2. Terumuskannya
pengelolaan kawasan pedesaan perkotaan dan kawasan tertentu.
3. Tersusunnya
sistem prasarana wilayah yang meliputi prasarana transportasi, pengairan,energi/listrik,
telekomunikasi, prasarana pengelolaan lingkungan.
4. Terumuskannya
pengembangan kawasan-kawasan yang perlu di proritaskan pengembangannya selama
jangka waktu rencana.
5. Tersusunnya
penatagunaan lahan/tanah, air, udara, hutan, mineral dan sumber daya alam
lainnya.
B.
Rencana
Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang
a.
Rencana Struktur Ruang
Arahan struktur tata ruang wilayah
Kabupaten Kerinci merupakan arah garis besar pola pemanfaatan ruang wilayah
yang diinginkan di masa mendatang sebagai
pengejewantahan visi pembangunan daerah dikaitkan dengan potensi dan masalah
pembangunan wilayah. Dalam rencana struktur tata ruang yang sangat terkait adalah sistem pusat-pusat
permukiman/perkotaan yang dikaitkan dengan sistem rencana jaringan prasarana.
b.
Rencana Pola Pemanfaatan Ruang
Pembahasan rencana pengembangan kawasan
budidaya akan meliputi uraian tentang beberapa aspek yang berkaitan dengan
pembudidayaan kawasan yang meliputi kawasan pertanian, kawasan perkebunan,
kawasan perikanan, kawasan pertambangan, kawasan perindusterian, kawasan
pariwisata, kawasan pemukiman pedesaan, kawasan permukiman perkotaan dan
kawasan lainnya yang masih berkaitan dengan kegiatan budidaya. Adapun untuk
menentukan suatu kawasan, harus diperhatikan kesesuain lahan bagi suatu
kegiatan dengan memperhatikan faktor-faktor fisik dasar, yaitu faktor
kemiringan lahan, ketinggian tempat, jenis tanah dan kawasan. Konsep
pengembangan pola pengembangan pola pemanfaatan ruang wilayah kabupaten terbagi
dalam :
1. Zona
Kawasan Lindung (Taman Nasional Kerinci Seblat).
2. Zona
Kawasan Penyangga (Perkebunan Tanaman Keras, Hutan Kemasyarakatan).
3. Zona
Budidaya Non Pertanian ( Permukiman, Industri, Pusat Kota, Sarana dan
Prasarana, dll).
4. Zona
Budidaya Pertanian (Pertanian Lahan Basah, Pertanian Lahan Kering, Kebun
campuran, dll).
5. Zona
Kawasan Perlindungan Setempat : Merupakan zona kawasan buffer terhadap sungai
dan danau.
6. Kawasan
Budidaya Sumber Daya Air (Perikanan Darat dan Danau).
C.
Rencana
Pengelolaan Kawasan Lindung dan Budidaya
a.
Rencana Pengelolaan Kawasan Lindung
Kawasan lindung adalah kawasan yang
ditetapkan dengan fungsi utama menjaga
kelestarian lingkungan hidup yang mencangkup sumberdaya alam, budaya dan sejarah bangsa untuk kepentingan
berlangsungnya pembangunan yang berkelanjutan.
Kawasan lindung harus dilindungi dari kegiatan-kegiatan produksi dan kegiatan manusia yang lainnya yang dapat
merusak kelestarian lingkungan kawasan.
Untuk penentuan arahan kebijakan dalam pemanfaatan kawasan lindung perlu terlebih dahulu dikenali tujuan dan
sasaran pemanfaatan kawasan tersebut. Secara
umum tujuannya adalah mengurangi resiko kawasan lingkungan hidup dan kehidupan sebagai akibat dari kegiatan
pembangunan. Sedangkan sasarannya adalah
:
1. Meningkatkan
fungsi lindung terhadap tanah, air dan iklim ( hidro-orologis
2. Mempertahankan
keanekaragaman flora, fauna dan tipe ekosistem serta keunikan alam.
Kebijaksanaan
pengembangan pada kawasan pada kawasan lindung adalah sebagai berikut :
1. Daerah
dengan fungsi sebagai suaka alam harus benar-benar dan tidak boleh ada kegiatan
lain pada daerah tersebut, kecuali kegiatan yang bersifat untuk menjaga fungsi
kawasan tersebut.
2. Kawasan
dengan fungsi sebagai kawasan lindung (sempadan sungai, sempadan danau/waduk,
kawasan dengan faktor pembatas lereng/ketinggian) dimanfaatkan dengan tanaman
yang berfungsi untuk reboisasi.
b.
Rencana Pengembangan Kawasan Budidaya
Arahan pengembangan kawasan budidaya
dibagi menjadi dua bagian, yaitu (1) Kawasan Budidaya Pertanian yang terdiri
dari tanaman pangan lahan kering, tanaman pangan lahan basah, tanaman
tahunan/tanaman keras, kawasan perkebunan, kawasan hutan produksi pola
partisipasi masyarakat, dan kawsan penyangga/ buffer ; (2) Kawasan Budidaya
Non-Pertanian yang terdiri dari kawasan permukiman (permukiman perkotaan dan
permukiman pedesaan), kawasan pariwisata, kawasan perindusterian, kawasan
penambangan dan bahan galian.
D.
Rencana
Pengelolaan Kawasan Perkotaan, Pedesaan dan Kawasan Tertentu
a.
Rencana Pengelolaan Kawasan
Perkotaan
Dalam struktur tata ruang wilayah
kabupaten keberadaan kota-kota perlu dilihat keterkaitannya dalam konteks
wilayah Kabupaten Kerinci sendiri maupun wilayah sekitarnya, baik secara
spasial maupun fungsional. Pola pengembangan sistem kota-kota ini mencangkup
arahan mengenai hirarki kota, fungsi kota, arahan kebijaksanaan dan strategi
pengembangan kota-kota.
Oleh karena itu dalam mengembangkan
kota-kota di Kabupaten Kerinci baik hirarki maupun fungsinya, arah
kebijaksanaan pengembangan masing-masing hirarki kota adalah :
1. Pengembangan
Kota Hirarki I (Kota Sungai Penuh).
2. Pengembangan
Kota Hirarki II ( Kota Semurup, Sanggaran Agung, Jujun, Siulak Deras, Batang Sangir dan Tamiai ).
3. Pengembangan
Kota Hirarki III ( Kota Lempur, Hiang, Rawang, Siulak, Pelompek, Kumun, Tanah Kampung, Sungai Tutung,
Koto Tuo dan Sungai Liuk ).
b.
Rencana Pengelolaan Kawasan
Pedesaan
Kawasan pedesaan di Kabupaten Kerinci
yang mempunyai kecenderungan untuk dapat dikembangkan menjadi sentra-sentra
produksi komoditi andalan sehingga dapat lebih meningkatkan
hubungan/keterkaitan fungsional diantara kawasan-kawasan tersebut serta
keterkaitannya dengan sistem jaringan prasarana transportasi dan sarana wilayah
lainnya dalam mewujudkan tujuan penataan ruang wilayah Kabupaten Kerinci yang
ditetapkan.
c.
Rencana Pengelolaan Kawasan
Tertentu
Pengelolaan kawasan tertentu yang
dimaksud dalam wilayah Kabupaten Kerinci adalah Kawsan Lindung (Taman Nasional
Kerinci Seblat). Sesuai dengan SK Menhutbun No. 901/KPTS2/I/99, bahwa luas TNKS
yang ada di Kabupaten Kerinci adalah 215.000 Ha. Sesuai dengan fungsi TNKS
tersebut, maka bentuk pengelolaan TNKS ini sebagai kawasan tertentu yang
merupakan kawasan perlindungan berskala nasional, dititikberatkan pada upaya
pelestarian alam atau mempertahankan aset alam konservasi. Kawasan lain sebagai
kawasan tertentu adalah kawasan rawan bencana, mengingat Kabupaten Kerinci
memiliki fisik dan geomorfologi yang rentan terhadap bencana alam : gempa,
longsor, banjir dan gunung berapi.
E.
Rencana
Sistem Prasarana
a.
Sistem Transportasi
Masalah transportasi merupakan salah
satu yang dijumpai di Kabupaten Kerinci yaitu masih rendahnya kualitas
prasarana transportasi terutama jaringan jalan yang menghubungkan antar wilayah
Kerinci dengan Kabupaten Merangin maupun Kabupaten Pesisir Selatan dan
Kabupaten Solok Sumatera Barat. Masalah utama yang terjadi adalah kondisi alam
yang berbukit-bukit dangan medan yang berat dan rawan longsor serta
keterbatasan pengembangan prasarana jalan dengan adanya kawasan TNKS. Alternatif
pengembangan prasarana transportasi ini adalah mengembangkan terminal angkutan
regional maupun lokal di tiap-tiap sentra pelayanan khususnya kota-kota kecamatan sesuai
dengan fungsi dan posisinya dalam
jenjang pelayanan. Pengaktifan kembali lapangan terbang Depati Parbo untuk
mendukung kegiatan usaha potensial dan kepariwisataan di Kabupaten Kerinci
sangat diharapakan, namun sampai saat ini belum terealisasi.
b.
Sistem Telekomunikasi
Rencana sistem telekomunikasi terkait
dengan kebutuhan pada tahun ke depan. Berdaarkan proyeksi penduduk pada tahun
2016 dan kebutuhan sarana telekomunikasi pada tahun tersebut maka terdapat
beberapa korelasi berikut ini :
1. Kebutuhan
total rumah tangga mencapai 16.000 SST dan akan terkonsentrasi di kawasan Perkotaan Sungai
Penuh, Koto Tuo, dan Siulak Deras.
2. Untuk
wilayah-wilayah yang belum terjangkau oleh fixed-phone , dapat menggunakan jaringan selular yang bersifat
mobile dan wireless . Untuk rencana
jaringan telepon tetap, jaringan mengikuti jaringan jalan kolektor primer, yaitu : Sungai Penuh – Koto
Tuo – Semurup – Siulak – Siulak Deras – Batang Sangir – Pelompek. Selain itu
ada juga jaringan jalan lain adalah Sungai Penuh – Sanggaran Agung – Tamiai dan
Sungai Penuh – Kumun – Jujun – Lempur.
Jaringan telepon yang mengikuti jaringan jalan lokal adalah semurup – Sungai Liuk – Koto Tuo – Sungai Tutung.
c.
Sistem Energi
Untuk memenuhi kebutuhan listrik maka
arahan dasarnya adalah pembangunan
pembangkit dan infrastruktur listrik di masa datang menjadi prioritas agar dapat mendukung kebutuhan
ekonomi masyarakat. Keterbatasan kapasitas
produksi dan kenaikan harga BBM khususnya minyak solar sebagai bahan baku PLTD perlu disikapi dengan
alternatif energi seperti batubara, mikro hidro, panas matahari, dll.
Sumber energi listrik alternatif yang
potensial di Kabupaten Kerinci adalah energi
listrik tenaga air. Menurut laporan RUKD Kabupaten Kerinci 2009, ada beberapa alternatif energi, yaitu :
1. Tenaga
Air
Tenaga air di Kabuapaten Kerinci
merupakan sumber energi yang paling potensial karena curah hujan yang cukup
tinggi (2.561 mm/tahun) serta ketersediaan air terjun dan sungai yang cukup
banyak.
2. Panas
Bumi
Energi panas bumi yang ada di Desa
Lempur Kecamatan Gunung Raya dan Desa
Semurup Kecamatan Air Hangat.
3. Batubara
Deposit batubara di Kabupaten Kerinci
dapat ditemui di kecamatan Sitinjau
Laut. Penggunaan batubara ini labih murah dan mudah walaupun terkompensasi dengan polusi udara yang cukup
masif.
Pengembangan rencana listrik yang paling
memungkinkan adalah pengembangan sumber tenaga listrik di seluruh kawasan,
yaitu air terjun bedeng, pancuran aro dan batu namora yang terletak di
Kecamatan Batang Merangin. arena keterbatasan penyediaan listrik dari PLTD
selain terkendala dengan semakin meningkatnya harga BBM.
d.
Sistem Pengelolaan Lingkungan
Rencana sistem pengelolaan lingkungan
adalah pengelolaan sampah dan instalasi pengolahan air limbah. Untuk
pengelolaan sampah telah terdapat satu Tempat Pembuangan Akhir Sampah di
Kecamatan Danau Kerinci. Penempatan ini tidak begitu baik, karena berdekatan
dengan Danau Kerinci, karena secara ekologis akan menganggu ekosistem sungai.
Beberapa alternatif lokasi yang
diarahkan sebagai lokasi TPA adalah di satu di setiap wilayah pengembangan.
Untuk wilayah pengembangan A, yang terdiri dari Kecamatan Air Hangat, Danau
Kerinci, Sitijau Laut, Air Hangat Timur, Kumun Debai, dan Sungai Penuh. Alokasi
TPA diletakkan di Kecamatan Sitinjau Laut. Untuk Wilayah Pengembangan B, yang
terdiri dari Kecamatan Gunung Raya dan Batang Merangin, alokasi TPA diletakkan
di Kecamatan Gunung Raya da sekitar Lempur. Untuk wilayah pengembangan C yang
terdiri dari Keamatan Kayu Aro, Gunung Tujuh, dan Gunung Kerinci, alokasi TPA
dapat dialokasikan di Kecamatan kayu Aro.
F.
Rencana
Pengembangan Kawasan Strategis
Dalam rangka menyiapkan investasi pengembangan yang bersifat lokal
maupun regional di dalam wilayah Kabupaten Kerinci merupakan aspek penting
dalam penataan ruang wilayah kabupaten, sehingga perlu menetapkan kawasan yang
strategis arat kawasan prioritas.
1. Kawasan
Tingkat Regional/Nasional
Kawasan prioritas yang potensi dan
persoalannya mempunyai pengaruh dan kepentingan ditingkat regional provinsi,
antar provinsi dan nasional
2. Kawasan
Tingkat Sub-Regional
Kawasan prioritas yang didalamnya
mempunyai pengaruh dan kepentingan di tingkat lokal kabupaten.
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Analisis
Geografi dan Wilayah Administratif
Kabupaten Kerinci adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jambi. Ibu
kota dari kabupaten ini adalah Sungai
Penuh. Letak wilayah Kabupaten Kerinci secara geografis diantara 01○ 41’ sampai
02○ 26’ lintang selatan dan 101○ 08’ sampai 101○ 40’ bujur timur berjarak 419 km dari Kota
Jambi. Wilayah Kabupaten Kerinci di
sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat, di sebelah
selatan berbatasan dengan Kabupaten Merangin, di sebelah barat Provinsi
Bengkulu dan Provinsi Sumatera Barat, dan Kabupaten Bungo di sebelah
timur.
Kabupaten Kerinci merupakan salah satu
kabupaten terkecil diantara kabupaten/kota
yang ada di Provinsi Jambi. Wilayahnya memiliki luas 380.850 Ha yang terletak di sepanjang Bukit Barisan.
Secara umum wilayah Kabupaten Kerinci dapat
dikelompokkan dalam beberapa satuan morfologi yaitu dataran, perbukitan yang bergelombang halus sampai perbukitan
sedang dan pergunungan. Bentuk morfologi
dan peyebaran batuan di sebelah utara memiliki morfologi yang lebih tinggi yaitu morfologi perbukitan gelombang
sampai pergunungan, yang diikuti dengan
variasi dan jenis batuan yang ada, sedangkan di selatan terdapat morfologi dataran rendah dan batuan yang relatif
sejenis. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa wilayah Kabupaten Kerinci memiliki potensi
sumber daya yang besar dan keindahan alam.
Potensi yang sangat besar dari Kabupaten Kerinci adalah menjadikan keindahan alam Kerinci sebagai obyek wisata.
Sejak lama Kerinci merupakan daerah tujuan
wisata yang potensial di Provinsi Jambi.
a.
Analisis
Potensi
Potensi sumber daya air di Kabupaten Kerinci sangat berlimpah, hal ini disebabkan oleh letaknya di dataran tinggi
dengan topografi pegunungan dan hutan lebat, umumnya sungai dan anak sungai
bermuara di Danau Kerinci, kemudian
mengalir sampai Pantai Timur Jambi. Sungai yang terbesar adalah sungai Bantang Merangin yang mengalir melalui
Danau Kerinci. Sungai lain yang terdapat
di Kabupaten Kerinci adalah Sungai Sakai, Sungai Rumpun, Sungai Tanduk, Sungai Cibudak,
Sungai Dadap, Sungai Tutup, dll. Yang
menjadi permasalahan adalah daerah aliran sungai (DAS) yang melewati wilayah Kabupaten Kerinci sudah mengalami
pencemaran dan kerusakan akibat
penebangan hutan, sehingga pada musim hujan banyak massa tanah hanyut (erosi)
dan mengakibatkan kedangkalan sungai dan mempengaruhi kadar kapur, kolloid tanah liat humus
tersuspensi di dalam tanah. Potensi air lainnya
di Kabupaten Kerinci juga terdapat danau antara lain, Danau Kerinci, Danau
Gunung Tujuh, Danau Lingkat, Danau Belibis dan danau- danau kecil lainnya yang
berpotensi untuk produk air mineral dan pembangkit tenaga listrik PLTA.
b.
Analisis
Sektor Basis
Sektor pertanian menjadi sektor basis atau sektor unggulan di Kabupaten Kerinci. Sektor ini juga menjadi penyumbang
kontribusi yang besar terhadap PDRB Kabupaten
Kerinci. Kabupaten Kerinci berada di wilayah dataran tinggi yang memiliki tingkat kesuburan tanah yang relatif
baik. Sektor pertanian tersebut banyak menyerap
tenaga kerja dan merupakan mata pencaharian utama masyarakat Kabupaten Kerinci.
Selain itu sektor pertanian berperan sebagai pemasok berbagai produk bahan makanan baik nabati maupun hewani
untuk kebutuhan rumah tangga dan bahan
baku industri. Produk-produk pertanian yang berasal dari Kabupaten Kerinci ditawarkan ke berbagai daerah di Pulau
Sumatera dan Pulau Jawa bahkan ekspor ke
negara tetangga. Komoditi pertanian utama yang memiliki keunggulan komparatif yaitu komoditi kayu manis, sehingga
peluang investasi yang ditawarkan dari
komoditi kayu manis ini cukup menjanjikan, salah satu contohnya dengan memanfaatkan kayu manis sebagai bahan dasar
untuk pembuatan produk makanan dan minuman.
Selain kayu manis, komoditi yang memiliki keunggulan komparatif lainnya adalah teh dan kopi.
Selain sektor pertanian, sektor jasa-jasa juga
menjadi sektor basis di Kabupaten
Kerinci dan penyumbang kontribusi terbesar kedua terhadap PDRB Kabupaten Kerinci setelah sektor pertanian.
Sektor jasa-jasa di Kabupaten Kerinci cukup
berkembang seiring dengan bertambahnya penduduk serta sarana dan prasarana di Kabupaten Kerinci. Selain itu
didukung oleh reinstra Kabupaten Kerinci melalui alokasi anggaran 20 persen untuk
pendidikan, serta peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan.
Sektor jasa-jasa di Kabupaten Kerinci yang memberikan kontribusi terbesar yaitu
di bidang pemerintahan seperti jasa adminstrasi
pemerintah,
pertahanan dan jasa pemerintah lainnya, serta jasa hiburan dan rekreasi. Kabupaten Kerinci hanya memiliki dua sektor
basis sedangkan sisanya merupakan sektor non basis atau non unggulan.
c.
Analisis
Perubahan PDRB Kabupaten Kerinci Tahun 2009-2013
Pertumbuhan PDRB Kabupaten Kerinci
berdasarkan harga konstan dari tahun 2009-20143mengalami peningkatan yaitu dari
Rp. 847.651,96 juta pada tahun 2009, kemudian naik menjadi Rp. 1.059.597,03
juta pada tahun 2013. Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi
Kabupaten Kerinci dari tahun 2009-2013 mengalami peningkatan. Laju pertumbuhan
ekonomi Kabupaten Kerinci selama periode
2009-2013 sebesar 25,00 persen.
Berdasarkan teori pertumbuhan rostow tahapan pembangunan terdiri dari tahapan masyarakat tradisional, prasyarat
untuk lepas landas, lepas landas, menuju kematangan, dan berkonsumsi tinggi. Kabupaten
Kerinci berada pada tahap pembangunan prasyarat untuk lepas landas.
Sektor pertanian memiliki peran yang sangat
penting dalam perekonomian Kabupaten Kerinci. Perkembangan sektor pertanian di
Kabupaten Kerinci telah mendorong pengembangan industri rumahan seperti
pembuatan dodol kentang yang berbahan baku dari hasil pertanian serta industri-industri kecil lainnya. Selain itu
juga didorong oleh masyarakat Kabupaten Kerinci
yang sudah banyak menjenjang pendidikan yang cukup baik, sehingga mereka mampu melakukan penerapan ilmu
pengetahuan modern dan meciptakan banyak
wirausaha, serta adanya perubahan yang didukung oleh pemerintah dengan
membangun fasilitas prasarana umum terutama di bidang transportasi.
d.
Analisis
Sektor Perekonomian
Sektor perekonomian yang mengalami laju pertumbuhan yang lambat adalah
sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pegolahan, sektor perdagangan,
hotel dan restoran, sektor pangangkutan dan komunikasi, serta sektor jasa-jasa.
Kelima sektor tersebut memiliki nilai pertumbuhan proporsional yang negatif.
Sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan merupakan sektor yang
laju pertumbuhannya paling cepat di Kabupaten Kerinci selama periode 2005-2009.
Cepatnya laju pertumbuhan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan di
Kabupaten Kerinci ini disebabkan banyak bank-bank yang membuka cabang di Kabupaten
Kerinci dan jasa-jasa keuangan lainnya. Selain itu berkembangnya sector ini
disebabkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap sektor keuangan, persewaan dan
jasa perusahaan untuk menunjang kegiatan ekonomi mereka. Keberadaan sektor ini
memudahkan masyarakat sekitar untuk melakukan transaksi dibidang keuangan.
Selain itu dengan adanya perbankan dan lembaga keuangan lainnya dapat
memberikan pinjaman kepada masyarakat untuk melakukan usaha sehingga muncul banyak
wirausaha di Kabupaten Kerinci.
BAB III
ANALISIS KINERJA PEMBANGUNAN
KABUPATEN KERINCI
A. Analisis Pencapaian Indikator Makro Pembangunan.
Dalam rangka mewujudkan Visi Kabupaten
Kerinci Tahun 2009 – 2014 yaitu. “Mewujudkan Masyarakat Madani, berbasisi
Agribisnis yang tangguh dan Pariwisata yang Unggul.” menjadi sesuatu yang
kongkrit dan dapat diukur, maka perlu adanya suatu indikator yang dapat
digunakan sebagai acuan pencapaian Visi secara makro. Indikator – indikator
tersebut menjadi alat untuk menilai kinerja Pemerintah Daerah dan perangkat
pelaksananya.
Untuk menilai pelaksanaan pembangunan selama tahun
2009 dapat dilihat dari pencapaian indikator makro pembangunan, dimana capaian
indikator makro pembangunan tahun 2009 adalah sebagai berikut :
1.
Jumlah penduduk Kabupaten Kerinci pada akhir tahun 2009
berdasarkan laporan BPS 305.243 jiwa.
2.
Laju Pertumbuhan
Penduduk (LPP) Kabupaten Kerinci tahun 2004 – 2009 = 0,76 %.
3.
Pada akhir tahun 2009, jumlah penduduk miskin Kabupaten
Kerinci adalah sebesar 79.782 jiwa atau sekitar 26,14% dari jumlah penduduk.
4.
Pergerakan ekonomi Kabupaten Kerinci sebagaimana
ditunjukkan oleh PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2009 mencapai nilai
Rp.1.734.414,460.000,-
5.
Implikasi dari perubahan Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB) atas harga berlaku ini adalah meningkatnya PDRB per kapita menjadi
Rp.5.713.838,72,-
6.
Perkembangan riil ekonomi makro regional tingkat
Kabupaten Kerinci pada tahun 2009 yang ditunjukkan oleh Laju Pertumbuhan
ekonomi adalah mencapai 4,97 %.
7.
Angka pengangguran terbuka 12.407 jiwa atau 7,57 %.
8.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 68, 0 %
9.
Indeks Pembangunan Gender (IPG) 55,6 %
10. Angka
Kriminalitas
11. Indeks
Gini Ratio 0,22 %
12. Indeks
Kemiskinan Manusia (IKM) 21,9 %.
B. Penjaringan Aspirasi Masyarakat
Hasil penjaringan aspirasi masyarakat adalah sebagai
berikut :
Aspirasi yang
berkaitan dengan pembangunan pendidikan dan agama.
1.
Aspirasi yang berkaitan pembangunan Kesehatan
2.
Aspirasi yang berkaitan pembangunan rehabilitas Irigasi
dan Sungai
3.
Aspirasi yang berkaitan dengan pembangunan,
rehabilitasi jalan dan jembatan.
4.
Aspirasi yang berkaitan perbaikan sarana pemukiman dan
perumahan
5.
Aspirasi yang berkaitan dengan kemudahan mendapat modal
usaha dan sarana produksi dan peningkatan manajemen usaha.
6.
Aspirasi yang berkaitan dengan kegiatan pembangunan
lainnya, lingkungan hidup, hukum, dan
ketertiban masyarakat.
7.
Aspirasi pemantafaatan lahan terlantar dan pengadaan
bibit sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
8.
Aspirasi yang berkaitan dengan stabilitas harga dan
pemasaran hasil pertanian
9.
Aspirasi yang berkaitan dengan bibit ternak sapi,
kambing, ayam dan itik.
10. Aspirasi
yang berkaitan dengan binih ikan, perluasan kolam dan penambahan keramba.
11. Aspirasi
yang berkaitan dengan industri kecil rumah tangga dan pengolahan bahan baku
yang tersedia.
12. Aspirasi
yang berkaitan dengan pengaktifan dan pengembangan Koperasi.
13. Aspirasi
yang berkaitan dengan peningkatan pengajian dan dakwa dalam masyarakat di
setiap desa (Dai masuk desa).
14. Aspirasi
yang berkaitan dengan pemberantasan pekat.
15. Aspirasi
yang berkaitan dengan pengembangan objek wisata.
16. Aspirasi
yang berkaitan dengan peningkatan bandara depati parbo.
17. Aspirasi
yang berkaitan dengan peningkatan kualitas pelayanan publik.
18. Aspirasi
yang berkaitan dengan adat istiadat.
19. Aspirasi
yang berkaitan dengan pemekaran wilayah
20. Aspirasi
yang berkaitan dengan penanganan masalah kesejahteraan sosial.
BAB
IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Partisipasi
dalam perencanaan pembangunan di kabupaten Kerinci masih bersifat tokenisme yaitu masih sekedar tindakan simbolis dan
masih bersifat representatif-elitis. Kemitraan antara masyarakat dengan
birokrasi dan pejabat politik serta antara birokrasi kecamatan/kelurahan dengan
birokrasi kota masih subordinate union of partnership. Birokrasi dan pejabat
politik mempunyai akses dan mempunyai kewenangan yang luas dalam setiap tahap
perencanaan dibandingkan dengan aktor yang lain. Dialog masih kurang efektif,
karena pertukaran informasi antara birokrasi dan pejabat politik dengan
masyarakat belum terjalin. Masyarakat telah menyampaikan usulan kegiatannya,
namun di sisi lain birokrasi dan pejabat politik belum menyampaikan informasi
mengenai isu strategis, arah kebijakan, kemampuan anggaran, program/kegiatan
SKPD yang berfungsi sebagai referensi masyarakat dalam menyampaikan usulan
kegiatan. Pengambilan keputusan tidak dilakukan secara bargaining antara
masyarakat dan birokrasi, karena hanya ditetapkan oleh birokrasi dan pejabat
politik secara hirarki sesuai dengan jenjang pemerintahan.
Kualitas
Perencanaan Pembangunan Tahunan Daerah di kabupaten Kerinci masih buruk karena belum mampu menjawab
kebutuhan masyarakat, belum mempunyai alur perencanaan yang jelas, serta belum
ada keterkaitan substansi antar dokumen perencanaan yang satu dengan yang
lainnya. Mekanisme perencanaan masih mengandalkan usulan kegiatan secara hirarki
dari birokrasi yang berorientasi fisik dan belum secara komprehensif mengangkat
isu-isu strategis yang muncul di
masyarakat
B. SARAN
Agar dapat meningkatkan partisipasi dalam perencanaan pembangunan perlu
dilakukan upaya-upaya nyata yaitu :
1.
Sebelum masyarakat menyampaikan usulannya hendaknya
dibekali terlebih dahulu dengan informasi tentang isu strategis, arah
kebijakan, prioritas pembangunan, kemampuan anggaran, program/kegiatan SKPD
yang bersifat indikatif yang bermanfaat untuk referensi masyarakat dalam menyampaikan usulan
kegiatannya.
2.
Untuk meningkatkan kualitas usulan kegiatan masyarakat
hendaknya para pengampu dari birokrasi dapat menjadi fasilitator perencanaan
pembangunan sampai di tingkat Kelurahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar